Minggu, 20 November 2011

Resensi Novel - Let Go

Diposkan oleh Dita di 21.55
 
 
 
 
awalnya novel ini  biasa aja yah. tapi awalnya doang.. selanjutnya.. banyak arti yang terkandung didalamnya :) nih kutipan kutipan di novel itu. Check It Out :
LET GO
Setiap cerita punya ruang sendiri di dalam hati
Berbeda dengan novel teenlit pada umumnya, novel ini cukup menarik hati saya. Biasanya teenlit2 yang bertebaran seringkali mengekspose kisah percintaan remaja, “menye2″, benci jadi suka, alur yang terlampau mudah ditebak, mirip serial pendek yang sering ditayangkan di TV. Tapi, dalam novel ini justru lebih kental dengan rona persahabatan, mimpi, menghargai dan menjadi diri sendiri, serta perjuangan menemukan kembali alasan untuk hidup. Tentu saja bumbu percintaan tetap ada mewarnai novel ini sebagai pemanis, tidak dominan.
Well, dalam postingan kali ini saya ingin berbagi kutipan-kutipan menarik (versi saya) dalam novel ini.Kutipan pertama yang membuat saya “jatuh cinta” dengan novel ini
“Kau tahu apa artinya kehilangan? Yakinlah, kau tak akan pernah benar-benar tahu sampai kau sendiri mengalaminya”
(sinopsis di cover bagian belakang)
Yup, rasa hampa dan sakit akan kehilangan itu benar-benar akan terasa sampai kita mengalaminya sendiri.

“Hanya ada dua cara untuk menjalani hidup ini. Cara pertama adalah menganggap seakan-akan tidak ada keajaiban. Cara kedua adalah seolah-olah segala sesuatu adalah keajaiban.”(Albert Einstein, halaman sebelum prolog)
Saya suka dengan cara kedua, dengan begitu akan semakin banyak kita bersyukur atas “keajaiban2″ yang hadir dalam tiap episode kehidupan kita. Bagaimana dengan kamu?
Ketika wanita menangis,
itu bukan berarti dia sedang mengeluarkan senjata terampuhnya,
melainkan justru berarti dia sedang mengeluarkan senjata terakhirnya.
Ketika wanita menangis,
itu bukan berarti dia tidak berusaha menahannya,
melainkan karena pertahanannya sudah tak mampu lagi membendung air matanya.
Ketika wanita menangis, itu bukan karena dia ingin terlihat lemah,
melainkan karena dia sudah tidak sanggup berpura-pura kuat. (Puisi Sarah, hal 55-56)
Entah, saya sepakat dengan puisi ini. Kadang, seperti itulah wanita. Selalu ingin tampak kuat dalam “kerapuhan”nya.
“Ternyata, aku nggak sehebat yang kupikir,” katanya lirih. “Ternyata, aku lemah. Mengerjakan hal-hal sepele aja aku nggak bisa…. Bodoh banget kalau aku ingin mengerjakan hal-hal yang hebat. Bodoh banget kalau aku ingin diakui sebagai orang yang hebat.”
Caraka menghela napas,“Kamu nggak lemah,” katanya, lalu tersenyum. “Kamu cuma lupa meminta tolong.”
(Dialog Nadya – Caraka, hal 83)
Perempuan yang ingin menjadi “sempurna” seringkali selalu berusaha melakukan semuanya sendiri. Pantang meminta pertolongan sebelum dia mencobanya. Hingga pada akhirnya dia lupa bahwa dalam hidup ini kita pasti butuh tangan yang lain untuk membawa beban, atau kaki lainnya untuk menemani perjalanan panjang. Hello.. kita hidup tak sendirian kok..!
*menohok diri sendiri :(  apalagi ditambah kutipan di bawah ini
“Sesekali, minta tolong nggak ada salahnya, kan?”
…. “Lagian, itu bikin kamu kelihatan lebih manusiawi.”
(Caraka, hal 116)
“Orang yang nggak bisa menghargai dirinya sendiri, nggak akan pernah bisa menghargai orang lain,” kata Nathan. (hal 98)
Yup, lagi-lagi sepakat dengan kutipan di atas. Bagaimana kita bisa menghargai orang lain kalau menghargai diri sendiri saja kita belum mampu.

“Tapi…, karena nggak tahu apa-apa itulah, esok hari jadi sesuatu yang layak ditunggu-tunggu, kan?” (Nathan, hal 112)
Mirip kutipan yang intinya seperti ini : kemarin adalah sejarah, hari ini adalah kenyataan, dan esok adalah misteri. Karena esok adalah sesuatu yang misterius, maka kita bebas bermimpi dan menunggu satu persatu misteri itu terkuak dan menyandingkan dengan mimpi kita.
“… kadang-kadang, kata-kata yang kamu ucapkan emang nggak sesuai sama mukamu.” (Nathan, hal 206)
Don’t judge the book by its cover? Atau, perhatikan apa yang disampaikan, jangan melihat siapa yang menyampaikan.
“Karena kamu nggak sadar kalau kamu keren itulah kamu jadi sangat keren.” (Nadya, hal 137)
Begitulah, kadang orang akan terlihat lebih keren ketika dia tidak menyadari bahwa dirinya keren. Yang sering terjadi sekarang kan banyaknya orang yang (ga keren) tapi menganggap dirinya paling keren -__-a
“Manusia itu lebih berani menghadapi apa pun kalau melakukannya demi orang yang dia sayangi.” (Ibu Ratna, hal 225)
Layaknya seorang ibu yang rela mempertaruhkan nyawanya demi bayi yang akan dilahirkannya?
“Kalau kamu emang orang yang selalu ingin menyenangkan hati orang lain, kenapa kamu nggak coba menyenangkan hati orang yang udah bantu kamu.” (Nathan, hal 118)
“Impian itu seperti sayap. Dia membawamu ke berbagai tempat. Kurasa, mamamu sadar akan hal itu. Dia tahu, kalau dia mencegah mimpimu, itu sama aja dengan memotong sayap burung. Burung tersebut memang nggak akan lari, tapi burung tanpa sayap sudah bukan burung lagi. Dan manusia tanpa mimpi, sudah bukan manusia lagi.” (Nadya, hal 120-121)
“Tapi, kupikir, seberani apa kamu berbuat norak, sebesar itulah rasa sukamu pada seseorang.” (Nadya, hal 194)
“Aku suka dia karena setiap kali bersama dia, aku jadi lebih suka diriku sendiri. Aku nyaman jadi aku apa adanya.”
“Kalau begitu… mungkin, dia menyukaimu dengan alasan yang sama.” (Dialog Caraka – mama, hal 203)
Berpura-pura membenci seseorang yang sangat dicintai memang sangat menyakitkan. (Caraka, hal 211)
Harapan sekecil apapun akan kuperjuangkan demi orang-ornag yang aku cintai dan mencintaiku.
Ternyata, hidup adalah keajaiban itu sendiri. (Surat Nathan, hal 239)
Tak perlu terikat masa lalu. Sungguh, nggak apa-apa bagiku kalau kelak kamu melupakanku. Biar aku saja yang mengingatmu, itu sudah lebih dari cukup bagiku.(Surat Nathan, hal 239)
Dan deretan kutipan di atas ini yang bikin saya speechless, kembali merenung, dan menyelami hikmah dari cerita, sekecil apapun. Karena, kembali menyitir ucapan Raka, bahwa tidak ada buku yang benar-benar buruk :) .
“… And in the end, the love we take is equal to the love we make.” (The Beatles)

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Libra_Line Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting