Sabtu, 20 Agustus 2011

Catatan Pak Tua

Diposkan oleh Dita di 17.46
Tempat itu Kotor. Pengap. Sesak.dan sangat menyeramkan. Namun dia tetap tersenyum duduk disana. Bahkan dengan santainya dia menghisap rokok yang hampir habis. Dia menoleh, berusaha mengais sesuatu disana. Ya...dia baru saja menjejalkan segumpal nasi dari Tong dihadapnnya. Lahap dia menyantapnya laksana hidangan penutup makan malam hotel berbintang. Setelah merasakan sedikit kelegaan ditenggorokannya, dia mulai membakar kembali satu puntung rokok dari sakunya. Tidak kali ini hanya setengah dari satu puntung rokok yang dia bakar hari ini. Sisanya??dia simpan kembali kedalam sakunya.

Langit-langit malam terlihat indah walau bintang tak tampak karena mendung. Disisinya, tiba-tiba seekor kunang-kunang tengah melayang bebas mendekatinya. Binatang yang sudah sangat jarang dia lihat ditengah padatnya perkotaan dengan asap dan bangunan kokoh megah dikiri kanannya.Makhluk kecil itu berkerlip seolah meratapi kesedihan yg dia rasa. Padahal, Dia sangat bahagia. Sama sekali tidak tampak bahwa dia sedang merasakan kesusahan atau kesedihan apapun. Ya… karena inilah dunianya. Inilah kehidupannya. Pil pahit sudah sering dia telan. Bahkan manisnya madu pun sudah puas dia jilat. Hingga raungan sang Raja hutanpun tak kan mampu mengubah senyum dibibirnya menjadi sebuah ketakutan yang mencekam.

Dua Detik bagaikan dua tahun untuknya. Bagaimana dengan satu jam??Dia tersenyum kembali melihat lampu disudut jalan dihadapannya. Jalan itu. Ya... jalan itu yang dia pilih. Jalan yang sudah hampir lebih dari 1000 kali dia lewati. Mungkin!!Karena dia sudah lupa berapa kali dia sudah melewati jalan ini. Dan yang jauh lebih menggelikan, Tak ada satupun yang sadar atas keberadaanya dulu, ataupun skarang.

Ruas-ruas jalan semakin ramai. Heran!! Dia menatap ke lampu kota yang menyala Merah. Kuning. Hijau. Lalu kembali ke Merah lagi dan seterusnya. Entah sampai jam berapa baru akan berhenti. Dilihatnya jam dinding yang teronggok kaku di barisan Ruko yang masih terbuka. Jam hampir menunjukan pukul 1 dini hari.namun, bisingnya kota tak jua berhenti. Justru, saat-saat seperti itulah kota dimana dia tinggal akan semakin ramai dengan berbagai jenis manusia. Mereka tumpah ruah menghiasi sang kota dengan berbagai “bentuk”. Benaknya membucah ketika dia mulai melewati orang-orang itu dengan pandangan yang sama kearahnya. Sinis,Marah.Jijik.Atau bahkan mungkin, sampai-sampai ada yang mau membunuhnya saat itu juga.. Tapi dia hanya terus berjalan. Berjalan dengan sangat tenang. Sama sekali tak menghiraukan mereka-mereka itu siapa. Begitu pun juga mereka, selepas pak tua itu pergi, mereka kembali terhanyut dengan keasyikan mereka.Ya.. sebuah pergulatan batin yang membucah ketika harus melewati tempat itu.

Dia sudah lupa bagaimana dia menghabiskan masa mudanya dulu. Seperti mereka kah???Pak tua hanya terus berjalan kedepan.Terus menyusuri jalan itu. Ya .. Jalan itu yang selalu dia pilih. Jalan yang sudah hampir lebih dari 1000 kali dia lewati. Mungkin!!! Ah.. Dia sudah lupa berapa kali dia sudah melewati jalan ini. Pak Tua terus berjalan. Sedikit menjauh dari hingar bingarnya perkotaan. Dia menyusuri sebuah ruas jalan yang mulai sempit. Sedikit gemericik air mulai terdengar ditelinganya yang mulai rapu. Matanya menatap sayu kehadapan Bangunan megah nan indah malam itu. Ya.. Bangun Masjid itu terlihat indah dengan torehan neon yang menyinarinya. Dia berhenti sejenak. Matanya memandang takjub. Terlihat seorang lelaki muda tengah membasuh kedua tangannya dengan air. Ya... suara gemericik air yang didengarnya, telah mengantarkan dia hingga sampai ketempat ini. Langkah-langkahnya terputus. Pukul berapakah ini??? sudah pagikah??? Dia mengerjap, Tatkala sadar ini baru beberapa menit dari ribuan detik yang telah dia lewati. Waktu ku masih panjang. Ya... masih panjangkah??

Suara-suara indah mulai mengalun dari dalam masjid. Dihampirinya Masjid itu. Namun, tak sedikit pun terbesit keinginan hatinya untuk masuk kesana. Dia hanya melihat. Memperhatikan. Dia sudah lupa bagaimana dia menghabiskan masa mudanya dulu. Seperti merekakah?

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Libra_Line Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting